SAHABAT/PANGERAN

Sebuah hantaman keras mengenai tubuhnya yang mungil. Dia terjatuh dan terhempas ke tanah, hantaman itu membuatnya tak sadarkan diri. Dalam sekejap orang-orang disekitarnya datang untuk menolong, untunglah supir mobil itu orang bertanggung jawab dan bergegas menolong orang yang telah dia tabrak tadi.
          “Dek, udah siuman?” Cowok yang menabraknya menungguinya hingga siuman. Perlahan matanya terbuka dan mulai memperhatikan sekelilingnya. Dia sadar bahwa ruangan ini bukan kamarnya.
          “Em, aku dimana?” Dini menjawab dengan nada yang lemah, yang menandakan dirinya masih lemas dan tubuhnya masih merasakan sakit akibat kecelakaan kemarin.
          “Kamu lagi di rumah sakit.” Jawab cowok yang telah menabrak Dini. Cowok itu bernama Andra. Dia berusia 20 tahun. Dia berusaha menjawab pertanyaan Dini dengan tenang. Karena
          “Kenapa aku disini?” Dini dengan polos bertanya, seperti anak kecil. Padahal empat hari lagi dia akan berumur 16 tahun. Dengan wajah yang polos, dia mulai mengubah ekspresi wajahnya seperti orang yang sedang berpikir keras.
          “Saya minta maaf dek sebelumnya. Karena saya, adek jadi masuk rumah sakit.” Andra menjawab pertanyaan Dini dengan perasaan yang sangat bersalah, dia hampir saja membuat nyawa Dini melayang.
          Sebenarnya, Andra terburu-buru menyetir mobil karena dia sangat rindu dengan sahabatnya yang telah dia tinggalkan  di Indonesia. Dan dia telah berjanji untuk menemuinya dan dia sudah terlambat. Sejak umur 10 tahun Andra dan orang tuanya pindah ke Australia karena ayahnya yang dipindah tugaskan ke sana. Dan Dini adalah sahabat yang ingin dia temui saat itu, tak disangka mereka dipertemukan dengan cara yang agak ekstrim.
          Andra mengetahui itu dari orang tua Dini yang semalam dia temani untuk menjaga Dini. Orang tua Dini menceritakan semua tentang Dini. Kehidupannya, sifatnya, dan semua kenakalannya.

          Andra tau semua tentang Dini sewaktu kecil. Tiba-tiba Andra tersadar dari lamunannya. Ternyata, Dini sudah lama memanggil-manggilnya.
          “Kak, kakak… kakak ngelamun yach?”
          “Ha? Sorry, kakak nggak nglamun koq.” Untuk mengembalikan kesadarannya, Andra berdiri dari tempat duduknya dan mengambil segelas air mineral dari dispenser. Dini membuka pembicaraan diantara mereka dengan muka polos dan kekanak-kanakan. Tanpa dia tahu siapa yang sedang bersamanya sekarang.
          “Em, saya juga minta maaf. Karena tidak hati-hati saat menyebrang” Dini menyadari kesalahannya, karena waktu itu juga dia kurang hati-hati dan terburu-buru.
          “Em, iyya nggak apa-apa koq, kan kakak juga yang salah.” Andra menjawab pertanyaan itu dengan kaku. Dia tidak percaya gadis kecil yang dulu sering dia temani bermain sudah dewasa dan cantik.
          Sejenak, keadaan menjadi hening. Lalu Andra kembali berbicara dan memperkenalkan diri kepada Dini. “Oh, iyya. Saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Andra.” Sambil mengulurkan tangannya kepada Dini, dan berharap Dini akan memberi balasan untuk uluran tangannya.
          “Saya Dini.” Dengan muka yang agak bingung, Dini membalas uluran tangan Andra dengan senyum bingung. ”Sepertinya, saya sering mendengar nama itu dech. Tapi dimana yach?” Seperti biasa, Dini akan mencoba mengingat-ingat hal apapun yang menurutnya pernah dia dengar atau lakukan. Tapi, kali ini sepertinya tidak berhasil, karena saat dia memakai otaknya untuk berpikir sat itu juga kepalanya kan sakit karena benturan yang dia alami saat tabrakan.
          Jelaslah kamu sering dengar, kan kita pernah temenan. Gumam Andra dalam hati. Andra sebenarnya agak sedikit kesal dengan tingkah Dini yang lupa akan dirinya, teman sekaligus sahabat yang Dini anggap sebagai kakak.
***
         
          Empat hari Dini dirawat di rumah sakit. Empat hari juga Andra selalu menemani Dini di rumah sakit, berharap Dini mengingat dirinya. Tapi, usaha Andra sia-sia selama empat hari ini. Tak ada sedikitpun tentangnya yang diingat oleh Dini. Setelah empat hari ini berada di rumah sakit, Dini sudah dibolehkan pulang oleh dokter.
          Sesampai di rumah, Dini mendapat kejutan spesial dari sahabat dan teman-temannya. Dini keluar rumah sakit bertepatan dengan hari ulang tahunnya, 01 November dan Andra yang menjadi dalang dalam pesta kejutan itu.
          Sebelumnya, Andra telah meminta nomor telpon sahabat dan semua teman-teman Dini dari mamanya Dini. Selama 3 hari terakhir, Andra selalu berhubungan dengan semua sahabat Dini. Dan jadilah surprise party untuk menyambut Dini yang disertakan dengan pesta ulang tahunnya.
          Dini terkejut. Hingga dia hanya bisa berdiri seperti patung di depan semua sahabat dan teman-temannya. ”Hah?” Dini hanya menganga melihat semua usaha dari Andra dan sahabatnya sendiri.
          “Bagaimana? Koq cuma diem doank sich?” Tanya Andra yang dari tadi memperhatikan Dini terpaku ditempatnya berdiri. “Wow, hebat banget. Kalian semua sukses ngagetin aku.”
          “Dini, met ulang tahunnya.” Ucap Titania, seorang sahabat Dini dan sekaligus teman sekelasnya, serta teman sebangkunya. “Di, dia siapa sich? Kenalin aku donk.” Tiba-tiba Indi berbisik ke Dini hingg dia terkejut.
          Indi adalah teman Dini yang paling ganjen kalau soal cowok, kalau boleh dibilang, dialah cewek yang paling tergila-gila dengan cowok yang keren, cool, handsome, pokoknya perfect dech. Apalagi Andra adalah tipe cowok yang seperti itu, otomatis dia akan melakukan segala cara untuk menarik perhatian Andri.
          “Di, kenalin gue donk.” desah Indi dengan wajah memelas. Dini paling tidak bisa menolak permintaan Indi jika dia sudah mengeluarkan jurus andalannya.
          “Iyya dech, gue kenalin. Sini.”
          “Kak, Kak Andra…” Dini agak susah memanggil Andra karena suasana rumahnya agak berisik.
          Andra celingak-celinguk mencari siapa yang meanggilnya. Maklumlah, Dini tidak tinggi-tinggi amat makanya  dia susah ditemukan oleh Andri.
          “Kak, Kak Andra… Kak Andra… KAK ANDRA!!” teriak Dini akhirnya yang sudah kesal, karena Andri masih mencariya padahal dia sudah ada dibelakangnya.
          “Eh, adek. Sorry, aku tadi nggak liat kamu. Soalnya kamu kecil sich. Hehehehe…” sambil tersenyum Andra meminta maaf pada Dini. “Ada apa dek?”
          “Ini, ada temanku yang mau kenalan sama kakak.”
          “Indi” Indi mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Andra.
          “Andra” Andra membalas uluran tangan Indi. Indi senyum-senyum sendiri karena senang bisa merasakan tangan Andra yang lembut. Indi seperti melayang di udara. Sementara Andra hanya bisa diam.
          Pesta ulang tahun Dini begitu meriah dan ramai malam itu. Itulah pesta yang paling meriah yang pernah diselenggarkan di rumahnya. Dini tidak menyakngka bahwa ulanga tahunnya yang ke 16 bisa semeriah itu. Harapanya untuk tahun depan adalah semoga ulang tahunnya yang ke 17 nanti lebih meriah dan lebih istimewa.
***
          Diary,
Malam ini, aku merasa jadi ratu sejagad. Tak ku sangka, ulang tahun kali ini sangat meriah. Diary, ada satu yang ingin ku tanyakan padamu. Andra itu siapa yach? Koq kayaknya aku sering banget denger nama itu.
Diary, aku tidur dulu yach, ngantuk nich.
Da diary…




          Pagi ini, tiba-tiba Dini bangun pagi sekali, padahal tidak biasanya dia bangun pagi. Apalagi hari ini adalah hari minggu. Sejak jam 4.30 pagi dia sudah terbangun. Sepagi ini Dini pergi jongging. Entah kesambet setan apa Dini pagi ini. Sehabis jongging di taman, dia bergegas mandi dan berpakaian yang rapi.
          “Din, kamu mau kemana sayang? Ini masih jam 06.30 loch.” Mama Dini bertanya dengan nada yang biasa saja, sambil menyiapkan sarapan. Karena dia tahu, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dini dan pasti Dini tidak akan mau memberitahukan itu walaupun dipaksa.
          “Cuma mau ke taman koq ma, nggak kemana-mana.”
          “Tapikan tadi udah ke taman, koq ke sana lagi?” Mama Dini udach mulai meluncurkan pertanyaannya. Karena tidak biasanya Dini pergi ke taman.
          “Dini tadi ketemu sama Kak Andra di taman waktu jongging, terus dia minta Dini untuk ke taman lagi. Nggak tahu dech mau ngapain. Dini juga bingung ma.” Jawab Dini panjang lebar. Mama Dini tidak menceritakan siapa Andra sebenarnya. Karena dia ingin hal ini menjadi surprise untuk Dini.
          “Kalau gitu, sarapan dulu gih sana. Nanti mag kamu kambuh lagi.”
“Iyya ma.”
“Abis makan, buru-buru gih ke taman. Jangan sampe Andra nunggu.”
“iyya mamaku tersayang.” Jawab Dini dengan nada manja
***
“Mana sich Kak Andra? Koq belum datang.” Sementara menunggu, Dini memikirkan lagi nama Andra. Perlahan-lahan dia mulai ingat dimana dia pernah mendengar nama itu.
Apa mungkin Andra itu… Gumam Dini dalam hati. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh Andra yang sudah ada disampingnya. Mereka berdua duduk di kursi yang ada di taman.
Tanya nggak yach? Kini batin Dini dilanda dilema. Dia ingin menanyakannya ke Andra, namun dia juga malu dan takut.
Ditengah sejuk angin pagi di taman, mereka berdua terdiam. Dini membuka pembicaraan pagi ini dengan Andra hanya sekedar basa basi. Lalu mulai muncul ide untuk menanyakan siapa Andra sebenarnya.
“Kak Andra”
“Apa?”
“Em, nggak jadi dech.”
“Apa sich, koq nggak jadi? Memangnya apa yang pengen kamu bilang?” Andra menengok menatap wajah Dini. Dini sekarang sudah berbeda dengan Dini yang 10 tahun lalu yang dia kenal. Tapi Andra masih bisa merasakan bahwa yang sedang berada disampingnya sekarang adalah Dini yang 10 tahun lalu dia tinggalkan.
Matanya yang coklat, kulitnya yang putih, cantik, pipinya yang agak tembem seperti pipi bayi. Sebenarnya, Andra  menyukai Dini sejak kecil. Saat dia meninggalkan Indonesia, sepertinya dia tidak tega. Apalagi dia harus meninggalkan Dini.
“Nggak jadi dech kak, nggak penting juga.”
Percakapan pagi ini, tidak semulus seperti apa yang telah direncanakan Andra. Pagi itu mereka habiskan di taman hanya duduk terdiam dan memperhatikan orang-orang yang asyik bercanda di taman. Sesekali mereka saling bertanya hanya sekedar untuk mencairkan suasana diantara mereka yang agak kaku.
***
“Assalamualaikum. Ma, mama dimana?”
“Walaikum salam. Mama lagi ada di dapur sayang.”

Dini lalu menghampiri mamanya yang sedang memasak di dapur. Dini memang kelurga kaya, dia juga mempunyai 2 orang pembantu dan 1 orang tukang kebun. Tapi, mamanya memang suka memasak dan masakannya juga enak. Mamanya juga sering membantu masak di dapur. Sedangkan papa Dini lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor. Jam 07 pagi, papanya harus sudah stand by di kantor dan jam 18.00 baru papa Dini ada di rumah.
“Mama.”
“Ada apa sayang?” jawab mama Dini dengan nada tak kalah manjanya. Lalu dia berbalik dan menatap Dini, lalu melanjutkan pertanyaannya, “Gimana ketemuannya sama Andra?”
“Nggak kenapa-kenapa koq ma, biasa-biasa aja.” Dini menjawab pertanyaan mamanya dengan ketus. Untuk sekarang, dia masih kaku menghadapi Andra. Dan Dini juga masih kesal dengan sifat Andra yang cuek dan so cool di hadapan teman-temannya.
“Mama, Dini lapar.”
“Ya udach, makan gih sana. Kamu tuch kerjanya cuma makan.”
“Yach, mama koq ngomongnya gitu sich?”
“Udach, makan gih cepet, lalu bawa piring langsung di cuci yach.”
“Beres ma.”
***
Pagi ini, Dini sudah siap berangkat. Setelah hampir seminggu tidak ke sekolah, Dini rindu dengan suasana belajar di kelas dan bercanda bersama teman-temannya. Pagi ini Dini semangat sekali untuk berangkat ke sekolah.
“TIN… TIN… TIN…” Terdengar klakson mobil yang berbunyi dari laur. Dini yang sedang sarapan bergegas keluar rumah dan menyelesaikan sarapannya. Ternyata, Andra yang membunyikan klakson itu.
“Pagi Non Dini.” Andra menyapa Dini pagi ini dengan senyuman dan nada suara yang sedang senang.
“Pa pagi..” Dini menjawab Andra dengan rasa heran. Dalam hati Dini bertanya, untuk apa orang ini ke sini? Seperti tahu apa yang ada dalam pikiran Dini, Andra melanjutakan penbicaraannya. “Oh, iyya. Kemarin aku lupa ngasih tahu kamu, kalau sekarang Kakak yang akan jadi sopir baru kamu.”
“Hah? Sopir baru? PAPA, MAMA!!!”
“Ada apa sich?” jawab papa dan mama Dini bersamaan.
“Koq Kak Andra bisa ada di sini sich?”
“Oh itu, orang tuanya Andra menitipkan Andra ke papa dan mama.” Mama Dini memjawab pertanyaan Dini dengan lembut.
“Menitipkan?”
“Iyya, memang kamu tidak tahu siapa Andra? Atau kamu lupa sama dia?”
“Memangnya dia siapa ma?”
“Astaga, Dia ini Andra teman kamu waktu kecil. Sudah ingat?”
Seperti biasa, sifat lemot dan telmi Dini muncul disaat yang tak terduga. Dia belum bisa mencerna kata-kata mamanya dengan baik.
“Maksud mama apa?”
“Sekarang giliran papa dech yang jelasin.” Pinta mama ke papa Dini.
“Gini loch sayang, Andra ini sahabat kamu dulu sejak kecil. Cuma, saar Andra umur 10 tahun, dia harus pindah ke Australia karena ayahnya yang dipindah tugaskan. Dan sekarang Andra kembali ke Indonesia karena study-nya disana sudah selesai dan sekarang papa merekomendasikan dia di kantor papa. Apa sekarang kamu sudah ingat?”

“Em…” Dini tampaknya masih berpikir keras dan berusaha mengingatnya. “Oh, Andra yang dulu sering aku ajakin main masak-masak yach? Terus main boneka-bonekaan, balap sepeda, iyya kan?”
“Huft, baguslah sekarang kamu sudah ingat. Papa tidak sia-sia menjelaskan panjang lebar lagi. Ya udach, sekarang kamu ke sekolah diantar Andra. Nanti kamu  terlambat. Andra, hati-hati kalau menyetir.”
“iyya om.”
“Ya udach pa, ma, Dini berangkat dulu. Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
***
Bel sudah berbunyi, semua siswa bergegas masuk ke kelas masing-masing.
“Din, koq kamu udach ke sekolah aja sich?”
“Kenapa, kamu nggak suka aku ke sekolah lagi?”
“Bukannya gitu, tapi…”
“Udachlah, bentar lagi guru masuk.”
“Sorry Din, bukan maksudku ayak gitu tadi.”
“Ya udach, nggak apa-apa koq.”
Titania agak bersalah bertanya seperti itu tadi. Dia hanya takut terjadi apa-apa pada sahabtnya hari ini. Karena menurutnya, Dini masih butuh istirahat. Tapi, dia tahu sahabatnya yang satu ini kuat untuk menjalani semuanya. Apapun itu.
***


“Din, ke kantin yuk makan.”
“Yuk, aku jugs lapae nich, dari tadi udach keroncongan.”
Saat keluar kelas menuju kantin, Dini dicegat  oleh Niko. Niko adalah kakak kelas Dini. Sejak Dini masuk ke sekolah ini, sejak itu juga Niko suka pada Dini, tapi Dini hanya menganggapnya teman, tak lebih dari itu.
“Din, mau ke kantin?”
“Iya.”
“Saya antar yach?”
“Nggak usah, ntar kakak repot. Lagi pula aku juga ada temen ke kantin koq.”
“Um,, ya udah.”
“Permisi kak.”
***
          Bel pulang berbunyi, Dini dan teman-temannya berencana ke mall. Saat keluar dari gerbang sekolah, Dini melihat Andra sudah menunggunya di parkiran luar sekolah. Dini sudah mulai memunculkan muka kesalnya. Sementara Titania hanya menatap Dini dengan keheranan.
          “Din, koq Kak Andra ada disini?”
“Nggak tahu juga.”
“Temuin gih, siapa tahu ada perlu.”
Dini akhirnya terpaksa menemui Andra. Andra yang melihat Dini dengan wajah yang agak kesal, sudah bersiap-siap untuk mendengarkan celotehan Dini.
“Kak, ngapain sich ke sini?”
Dengan simple-nya Andra menjawab, “jemput kamu.”
“Aduch, aku mau ke mall dulu sama teman-teman. Ntar baru pulang kak.”
“Ya udach, kakak antar kamu ke mall sama teman-teman kamu lalu pulang.”
“Hmm,,iyya dech. Tunggu bentar disini, aku mau panggil teman-temanku dulu.”
Sekarang Dini bingung harus bilang apa pada teman-temannya. Tidak mungkin Dini mempertemukan Andra dengan temannya yang semua pada gila cowok. Terpaksa Dini memanggil teman-temannya untuk ikut dengannya dan diantar Andra ke mall.
Setelah Dini dan teman-temannya puas cuci mata di mall, Andra mengantar teman Dini ke rumahnya masing-masing.
***
Diary,
Aku sebel nich sama Kak Andra, so pamer banget  didepan teman-temanku. Bisa-bisa besok aku diserbu sama teman-temanku untuk minta nomor handphone, facebook, twitter, sama pin BB-nya. Argh, kak Andra nggak tahu apa, kalau aku nggak suka dia kayak gitu. Diary, bantu aku dong kasi tahu dia…
***
Di kelas, tidak sengaja Dini melamun. Untunglah saat itu dia tidak sedang belajar. Dia sedang memikirkan Andra. Dini menyukai Andra. Tapi, Dini tidak mau mengakui itu, karena Dini minder, malu, dan takut. Dari kecil, Dini berharap Andra adalah pangerannya. Seperti pada cerita dongeng Cinderella. Tapi, itu dulu waktu dia masih anak-anak. Sekarang dia berharap Andra juga punya perasaan yang sama sepertinya.
Niko datang ke kelas Dini dan mengejutkannya hingga  buyarlah semua lamunan Dini tadi.
“Din, hari ini aku ingin ngasih tahu ke kamu, kalau sudah lama aku menunggu saat ini. Sejak pertama melihatmu, aku sudah jatuh hati.”

Niko adalah salah satu kakak kelas Dini yang bertugas sebagai panitia MOS saat dia pertama kali masuk di SMA ini, SMA Tunas Bangsa.
“Maksudnya?”
“Maksud kakak, maukah kamu menjadi pacar kakak?”
“Em, maaf kak. Aku nggak bisa.”
“Tapi, kenapa? Apa ada orang lain di hatimu”
“Em, bagaimana yach?”
“Siapa orang itu?”
“Udachlah kak, kakak juga nggak bakalan tahu.”
***
Saat jam pulang sekolah, diam-diam Niko mengikuti Dini hingga keluar gerbang sekolah. Dia melihat Dini dijemput oleh seorang laki-laki yang sepertinya dia kenal. Setelah agak lama memperhatikannya, akhirnya dia ingat. Cowok itu adalah sepupunya, Andra.
“Hah? Darimana Dini kenal Andra? Andra baru saja datang Dari Aussie.” Niko berbicara sendiri seperti orang gila dan tidak menyadari bahwa orang disekitarnya sedang meperhatikannya.
“Dasar sepupu pengkhianat. Teganya dia merebut Dini dariku. Aku nyesel udach cerita ke dia soal Dini.” Niko hanya bisa marah-marah sendiri dalam hati. Dia tak menyangka jika sepupunya yang sering dia ajak curhat malah menghianatinya.
***
Pagi ini, seperti biasa Andra mengantar Dini ke sekolah. Makin hari hubungan merea makin dekat, tapi belum ada kata kepastian yang keluar dari mulut mereka berdua. Hari ini juga, Niko sudah punya rencana licik untuk Dini dan Andra.

“Kak Andra, ntar sore antar aku ke took buku yach.”
“Iya, oke non.”
Dini keluar dari mobil dengan senyum yang sumringah dan muka yang berseri-seri. Titania hanya bisa ikut tersenyum melihat sahabatnya yang sedang bahagia tanpa tahu apa sebabnya.
“Din, koq kamu seneng banget hari ini? Ada apa?”
“Nggak, nggak ada koq. Cuma lagi seneng aja.”
“Oh. Jangan-jangan…”
“jangan-jangan apa?”
“Jangan-jangan kamu udah jadian yach sama Kak Andra?”
“Ihh, nggak koq.”
“Bohong nich, aku nggak mau ah punya sahabat pembohong.”
“Aku nggak bohong koq.”
“KRINGG… KRINGG… KRINGG… ”
“Bel masuk udach bunyi nich. Berhenti dech becandanya.” Titania memperingatkan Dini yang sedang asyiknya bercanda dengan Titania.
***
Niko sedang siap-siap untuk meluncurkan rencana jahatnya.
“Tunggu pembalasanku Ndra. Kamu akan tahu akibatnya jika macam-macam denganku.”
Saat yang ditunggu-tunggu Niko telah datang. Bel sudah berbunyi pertanda jam pulang sekolah telah berlaku. Niko tinggal menunggu Dini untuk keluar dari gerbang sekolah. Di luar gerbang, seperti biasa Andra menunggu Dini.
Dini telah keluar dari gerbang sekolah dan melambai pada Andra. Tiba-tiba Niko datang dan membawa Dini untuk ke gudang belakang sekolah. Andra yang meliht kejadian itu langsung bergegas keluar dari mobil dan berlari untuk menolong Dini. Titania yang juga melihat kejadian itu langsung berlari mengejar Niko.
“DINIII….” Teriak Andra disela-sela larinya. Dibelakangnya Titania menyusul dan memanggil Niko.
“NIKOO…. Lepasin Dini sekarang juga. NIKOO… BERHENTI!!!” Titania bertetiak sekencang mungkin. Untunglah Niko berhenti berlari. Tetapi, dia mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan menodongkannya ke leher Dini.
“Niko, tolong jangan lakukan itu, kita sepupuan Niko. Tolong buang pisaumu itu.” Pinta Andra kepad Niko.
Titania dan Dini terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Andra tadi.
“Apa? Kalian sepupuan?” Dini bertanya dengan wajah yang heran.
“Kenapa? Kamu baru tahu, kalau aku dan Andra itu sepupu? Dan kamu Andra teganya kamu merebut Dini dariku.”
“Aku tidak merebutnya, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya.”
“Kamu memang tidak ada hubungan apa-apa dengannya, tapi kamu menyukainya kan?”
“Niko, tidak… aku mohon lepaskan Dini sekarang.” Andra memohon pada Niko yang sekarang sudah seprti orang gila.
Niko pun melepaskan Dini, tetapi sasarannya sekarang adalah Andra. Niko berlari kearah Andra lalu menusuknya dengan pisau lipat yang tadi dia pegang.
“ANDRAAA!!!!!!” teriak Dini sejadi-jadinya. Dini menangis dan berlari kearah Andra. Dini memeluk Andra yang kini badannya telah bersimbah darah.
Sementara Niko terkejut dengan perbuatannya sendiri lalu melarikan diri. Untungnya polisi segera datang membawa Niko ke kantor polisi. Tak lama kemudian, ambulance datang dan melarikan Andra secepat mungkin ke rumah sakit.
***
Setelah 3 hari di rumah sakit, akhirnya Andra melewati masa kritisnya dan sudah siuman.
“Kak Andra, maafin Dini. Karena nolong Dini, kak Andra yang jadi korban. Hiks hiks hiks.”
“Iyya, kakak maafin koq. Tapi dengan satu syarat.”
“Apa syaratnya?”
“Kamu harus jadi princess-ku.”
“HAH?”
“Yach, karena aku Pangeran berkuda putih yang akan selalu ada untukmu dan menjagamu setiap saat.”
Tok.. tok.. tok..
“Masuk” ucap Dini mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk.
“Hey, Dini apa kabar? Kak Andra gimana keadaannya sekarang?”
“udach nggak apa-apa koq. Mungkin lusa udach boleh pulang.”
“Em, kak. Kakak tahu nggak, pas waktu kakak ditusuk oleh Niko, Dini tuch khawati banget kak. Kayaknya dia takut kalau sampai kehilangan kakak.”
“Titania. Apa-apaan sich? Nggak koq kak. Tita bohong nich.”
“Din, jadi gimana? Kamu maukan jadi Princess-ku?”
“Em, gimana yach?”
“Din, terima ajha gimana sich, susah amat. Bukannya kamu juga suka sama Kak Andra?” Goda Titania,
Muka Dini langsung berubah jadi merah padam karena malu. Titania dan Andra tertawa melihat  Dini yang kini hanya tertunduk malu.
“Em, baiklah. Aku nerima kakak.”
“HOREEE!!!”
“hush….”
“Ups, maaf.”
Akhirnya, sore itu menjadi sore yang indah untuk Andra dan Dini dan juga untuk sahabatnya Titania.
***
Diary,
Hari ini, di rumah sakit kak Andra nembak aku. Uh,,senengnya. Hari ini rumah skait menjadi saksi bisu diantara aku, Andra, dan Titania.
Diary, hari ini aku seneeeeng banget.
THE END

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Sedih di Hari Minggu

Galau

MENYERAH DAN LELAH