Kisah Sedih di Hari Minggu

Selamat malam para pembaca. Mungkin blog ini akan kuisi dengan beberapa cerita tentang diriku dan kehidupanku. Kehidupan yang biasa-biasa saja sebenarnya dan mungkin tidak ada yang istimewa. Tapi, aku mau mencoba untuk menjadi pemeran utama dalam hidupku lewat cerita yang akan aku tulis ini. Karena sesungguhnya aku hanya selalu menjadi figuran, bahkan diceritaku sendiri. Aku merasa insecure dengan diriku sendiri.

Didikan dari orang tua sewaktu kecil mungkin berpengaruh besar dalam kehidupanku. Selalu dibanding-bandingkan dengan sepupu yang seumuran denganku membuatku mulai menyalahkan diri sendiri dan keadaan. Setiap kali dibandingkan aku merasa semakin kecil, seakan-akan aku tidak bisa melakukan apapun. Sedari kecil sudah terbiasa dengan ocehan dan marahnya mama. Dulu kebiasaan burukku adalah selalu menginginkan apapun saat itu juga, tidak sabaran, dan ngambekan. Setiap kali keinginanku tidak dikabulkan, pintu kamar akan terbanting. Pernah juga aku mengurung diri di dalam rumah, mengunci pintu rumah dari dalam. Untungnya, bapak tahu cara untuk masuk ke dalam rumah dan membukanya. Terkadang, dalam keadaan yang seperti itu aku menangis hingga tertidur.

Sewaktu kecil aku sama saja seperti anak-anak pada umumnya, untungnya aku tidak kekurangan teman main saat itu, tidak seperti generasi sekarang yang terlalu banyak memegang gadget. Bermain di luar rumah sepulang sekolah, menonton kartun dari subuh hingga siang di hari minggu, berkumpul bersama teman sekolah, belajar kelompok, sepedaan bareng, mungkin jika ku sebutkan satu persatu halaman ini tidak akan cukup. Terlalu banyak permainan dan kenangan yang indah semasa kecil. Aku ingat ketika kecil, aku bersama teman-teman selalu bersepeda untuk membeli minyak tanah, waktu itu minyak tanah masih murah dan orang-orang masih banyak yang menggunakan kompor minyak.

Pulang sekolah pasti selalu ke sekolah tempat bapak dan mama mengajar. Mengenal begitu banyak murid-murid bapak dan mama, terkadang bermain juga bersama mereka. Mengenal lingkungan sekolah dan juga rekan-rekan bapak dan mama yang menjadi guruku ketika aku beranjak SMP. Yah, kedua orang tuaku berprofesi sebagai guru di Sekolah Menengah Pertama.

Perlahan-lahan semakin bertambah umur pemikiran juga semakin dewasa dan mulai mengerti segala sesuatunya. Apalagi setelah bapak mengalami kecelakaan di awal tahun 2006. Aku yang saat itu masih berumur sekitar 10 tahun, kelas 4 SD dan tidak tahu apa-apa menjadi orang terkahir yang mengetahui bahwa bapak terluka parah dikecelakaan itu. Aku masih ingat, hari itu hari minggu, aku berangkat kursus Bahasa Inggris di pagi hari, siangnya aku masih bersama bapak, mama serta adikku bersenda gurau di rumah, berbaring bersama di kamar. Sore harinya dia bersama adikku keluar sebentar untuk membeli susu. Sore itu, aku bermain bersama teman-teman dan beberapa orang hanya bertanya “Bapakmu di rumah sakit?” saat itu aku hanya bingung, tak tahu harus menjawab bagaimana, karena setauku bapak baik-baik saja. Ketika akan pulang ke rumah, seorang temanku akhirnya memberitahuku bahwa bapakku kecelakaan dan kepalanya bocor.

Imajinasiku tentang kepala bocor membuatku takut sendiri, aku segera berlari kerumah dan ternyata mama sudah ke rumah sakit, kabar yang aku dengar ketika sampai di rumah adalah bapakku dirujuk ke RSUD, dia tidak lagi di Puskesmas. Saat itu, mama juga tidak menyangka bahwa bapak terluka parah. Di rumah aku hanya menangis di kamar. Aku tidak tahu harus berbuat apa, sampai akhirnya tetanggaku berbaik hati mau mengantarku ke rumah sakit sehabis maghrib. Di sana, aku melihat bapak di ruang UGD terbaring, perban dikepalanya berwarna merah akibat pendarahan. Aku tidak terlalu ingat situasi dan kondisi disana saat itu. Aku melihat mama yang tidak menangis, tidak seperti di sinetron kebanyakan.

Aku tidak ingat, apakah aku berbicara dengan mama saat itu atau tidak. Keadaannya samar, yang teringat hanya aku ikut ke rumah nenek bersama tanteku. Di sana sudah ada adikku yang tertidur. Di umur yang sekecil itu dia sudah mengalami kecelakaan bersama bapak. Tapi, saat itu aku menaruh dendam kepada adikku. Besoknya aku mendapat kabar bahwa bapak telah di rujuk ke rumah sakit besar tengah malamnya. Dari cerita kakek (orang tua bapak) saat itu, aku tahu semua itu berkat sahabat dan teman-teman bapak yang mendesak dokter untuk merujuknya karena tidak ada kemajuan sama sekali pada bapak. Aku bersyukur, bapak punya sahabat, teman, dan rekan-rekan yang baik kepadanya.

Selama lima hari aku berada di rumah nenek, selama itu juga aku tidak mendengar suara adikku, sepertinya dia sangat shock dengan kejadian itu. Dihari kelima, tetanggaku menjemputku untuk pulang, mereka khawatir aku akan mengabaikan sekolahku. Selama bapak dirawat di rumah sakit, aku tinggal di rumah tetanggaku, aku bersahabat dengan anaknya dan juga satu kelas. Aku berusaha untuk biasa saja, menjalani semuanya seperti biasa. Setiap hari, selalu saja ada uang jajan entah dari nenek, entah dari tetangga, atau dari teman-teman bapak. Hal-hal yang aku syukuri dari bapak adalah karena dia memiliki begitu banyak teman yang baik dan selalu menolong bapak.

Setiap hari selalu saja ada yang memberikan informasi tentang keadaan bapak. Dua minggu setelah operasi bapak baru siuman. Bapak koma dua minggu, aku tidak tahu bagaimana tegarnya mama menemani bapak saat itu, mungkin jika aku yang disana aku hanya akan menangis tidak sanggup melihat bapak dalam keadaan koma. Setelah sadarpun, bapak ternyata mengalami amnesia, dia tidak mengenal mama, dia tidak mengenalku, dia tidak mengenal siapa pun. Setelah sekitar dua minggu, bapak perlahan-lahan mulai mengingat mama, kakak, dan adikku. Tidak dengan diriku. Salah satu guruku saat itu rutin menjenguk bapak karena suaminya bersahabat dengan bapak. Setiap kali beliau menjenguk bapak, dia akan selalu memberitahuku di kelas ketika dia mengajarku, aku ingat sekali waktu itu dia berkata dengan tersenyum “bapakmu sudah mulai belajar berhitung”. Aku tidak ingat, bagaimana responku saat itu, yang jelas aku merasa bahagia.

Setelah bapak keluar dari rumah sakit, beliau tinggal di rumah kerabat karena akan terlalu jauh untuk kembali checkup control jika pulang ke rumah, sementara bapak juga masih belum pulih sepenuhnya. Aku berkesempatan menjenguk bapak ketika dia telah keluar dari rumah sakit, aku ikut dirombongan rekan guru yang akan menjenguk bapak saat itu. Hal pertama yang aku rasakan, aku merasa asing dengan bapak yang tidak mengenalku. Aku sedih. Aku hanya menginap beberapa malam lalu kembali pulang ke rumah.

Hampir dua bulan bapak di sana, bolak-balik rumah sakit untuk checkup. Semakin lama, kondisi bapak semakin baik. Setelah itu bapak hanya checkup  sebulan sekali selama 2 bulan lalu dijadwalkan lagi untuk menjalani operasi kedua untuk pemasangan bagian tengkorak yang saat itu dipotong. Untungnya bapak tidak terlalu lama dirawat ketika operasi kedua. Setelah itu, kondisi bapak semakin membaik, setelah hampir setahun bapak baru diperbolekan mengajar lagi.

Bekas operasi bapak dibagian kepalanya kadang membuatku teringat kembali pada hari ketika dia kecelakaan, butuh beberapa tahun untuk memaafkan adikku. Adikku yang masih kecil saat itu tidak tahu apa-apa tapi aku malah menyalahkannya atas kecelakaan itu. Sering aku memarahinya hanya karena hal-hal kecil yang tidak berdasar. Beranjak SMP, aku mulai memaafkannya, pikiranku mulai terbuka bahwa itu bukan salahnya sama sekali. Mungkin hal ini juga yang membentukku menjadi seseorang yang tertutup.

Percaya atau tidak, saat aku menuliskan cerita ini aku menangis sesegukan. Air mataku mengalir deras. Aku pikir kejadian ini sudah cukup lama untuk kuceritakan kembali dalam keadaan yang biasa saja. Ternyata aku tak mampu. Terkahir kali aku menceritakannya ketika kelas 10 SMA, saat itu pelajaran Bahasa Indonesia dan murid diminta untuk bergiliran bercerita di depan kelas. Saat itu, kupikir aku tidak akan menangis lagi ketika mengingat kejadiaan ini, nyatanya ditengah cerita aku menangis sesegukan di depan kelas hingga cerita itu aku akhiri. Teman-teman mulai menanyaiku tentang keadaan bapak begitupun dengan guruku. Aku hanya menjawab bahwa bapak sudah baik-baik saja sekarang.

Satu hal ini yang tidak pernah aku ceritakan kepada teman-teman kuliahku. Karena kurasa ini bukan sesuatu yang bisa aku bagikan begitu saja. Terkadang, ada hal yang tidak perlu diceritakan kepada mereka. Bukan sesuatu yang penting juga sebenarnya.

Mungkin ini salah satu cerita yang bisa aku bagikan hari ini. Kisah sedih di hari minggu seorang anak yang tumbuh menjadi seorang yang tertutup dan insecure. Tapi dari kejadian ini aku merasa semakin dewasa seiring berjalannya waktu, semakin menghargai waktu  bersama kedua orang tua lengkap. Aku merasa banyak hal dan pelajaran yang bisa aku petik dari sana setiap kali berbalik mengingat kisah sedih ini. Aku merasa bahagia masih diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama bapak.

Terima kasih telah berkenan membaca cerita ini ^^


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Galau

MENYERAH DAN LELAH